Bagai istana tapi penjara,
banyak musang berbulu domba,
acap kali hati tersiksa,
namun sabar tetap di coba.

Ketika sakit makin di pendam,
membuat batin tersiksa dalam,
air mata pun jatuh kedalam,
sungguhku tak kuat untuk menyimpan.

Acap kali aku berlari,
untuk menghibur rasa di hati,
karna aku sorang lelaki,
takan menyerah walau sekali.

Namun pelarian itu sungguh tak wajar,
membuat diri smakin liar,
dosapu tambah melebar,
namun aku harus tetap tegar.

Kadang ku ingat nasehat bunda,
membuat mata berkaca kaca,
ingin ku peluk dekap segera,
namun beliau jauh di sana.

Ini bukan sebuah penyesalan,
cuman goresan melalui tangan,
berbagi cerita dan pengalaman,
untuk di ingat di masa kedepan.

Mungkin aku harus bersimpuh,
memohon ampun pada Tuhan dengan sungguh,
agar diri semakin tangguh,
menghadang badai topan gemuruh.

Iklan