Seperti nyala lilin redup terang ditiup angin, begitu pula cinta terkadang mesra, terkadang duka, disaat mesra lupa sgalanya, tapi disaat duka bercucuran air mata, perih, sakit, kecewa melebur satu. Membuat hati seperti kapal yang menabrak karang, pecah, terombang ambing di lautan luas, menunggu ombak membawa puing puing menuju bibir pantai. Mana janjimu, tuk slalu bersama dalam suka maupun duka, aku kecewa dengan tingkahmu, yang salalu menuding tanpa sebab, slalu memojokanku, ku tlah berusaha untuk slalu jujur namunkau slalu ngaur. Kini kupasrahkan istana cinta ini padamu, aku siap apapun keputusanmu walau air mata kan menetes di pipiku.

Iklan