Di ambang senja ku goreskan kembali tinta hitam ini, sebuah syair hati nan bimbang. Konflik batin seakan sudah mencapai titik puncak. Tapi apa gunanyaku sesali yang telah berlalu…Mungkin itulah lembaran kusam pada diari cinta ini. Aku akan berusaha mensucikan noda noda ku dengan sentuhan udhuk dan bersujud pada sang khaliq. Aku hanya manusia biasa namun tak bisa menyembunyikan raut kesedihan ini, penyesalanpun kini telah meneteskan air mata sesal. Atas apa yang telah ku perbuat, merupakan tingkah yang salah,..Menangis….. Aku tak mau larut, tenggelam dan hancur terlalu lama. Satu tekat, aku akan bangkit dari sebuah kesalahan yang fatal. Tuhan tataplah aku dengan sebuah senyuman agar hati tak lagi resah.

Jakarta, 18 mei 2011

hanya sebuah syair jangan di artikan dalam.

Iklan