Sepucuk Surat Untuk Bunda.

Masih terbayang di pelupuk mata, dalam pelukan hangat seorang bunda, setiap detikpun tak lupa untuk slalu tersenyum demi sibuah cinta, walau keringat tak pernah berhenti di keningnya namun tetap tabah untuk anaknya. Bunda terimakasih, baru itu yang dapat aku lakukan, ku tulis syair ini di gelapnya malam menuju peraduan sebuah curahan hati akan keriduan yang teramat dalam. Bunda inginku mencium tanganmu namun engkau jauh disana, dan masih tersenyum menunggu kedangan anakmu. Betapa tidak, tanpa mempedulikan diri engkau rela bermandikan keringat demi masadepan anak anakmu. Angin malam yang berhembus kutitipkan surat rinduku, padamu untuk Bunda.

Jakarta, 20 mei 2011

Trimakasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s